Sulap; Perjuangan Berkesenian



Pagi ini, di beranda lewat status salah satu pesulap yang ada di daftar teman saya. Tak usah saya sebut. Biar seru.

Saya memang punya beberapa teman pesulap profesional di daftar teman, yah meskipun saya gak pernah berani untuk sok akrab komentar di status mereka, paling tidak saya dapat kabar terbaru soal dunia persulapan dari pesulapnya langsung.

Balik ke status yang lewat tadi pagi, saya iseng untuk membuka 'timeline' pesulap itu, melihat kabar terbaru, berita-berita sulap tanah air, dan hal-hal yang tidak saya dapatkan dari kawan-kawan penulis di daftar teman saya.

Oh iya, meskipun mereka pesulap, tapi statusnya bagus-bagus loh. Ah, udah jago sulap, jago nulis, bentar lagi jadi ayam jago.
.
Di 'timeline' itu, saya mendapat beberapa hal. 

Pertama, bahwa akhir-akhir ini, para pesulap sedang mencoba mengembalikan sulap pada jati dirinya. Yaitu, sulap satu jam, pakai 'opener', di gedung teater.

Ini tentu semacam harapan baru mereka. Saya setuju. Bahwa sah saja sulap tidak punya porsi banyak lagi di tivi, biarkan saja yang sulap itu Pak Tarno, biarkan saja aksi sulap dikategorikan sebagai penipuan oleh KPI, biarkan sulap mati di televisi. Toh, akhirnya para pesulap menemukan jalan mereka yang dulu. Sulap secara penuh, tanpa tuduhan trik kamera, tanpa pembongkaran trik dari anak alay, tanpa peduli pada KPI, tanpa takut durasi habis, tanpa takut penonton pulang dan malah memikirkan caranya dan melupakan keindahannya

Sulap memang sudah semestinya begitu. Saya membayangkan, nanti akan ada hari dimana pesulap baru mengajak gebetannya nonton sulap ke teater, ada hari dimana para orangtua mengajak anaknya nonton sulap ke teater di liburan sekolah, ada hari dimana saya 'me time' dengan nonton sulap di teater.

Ah, impian yang indah. Sulap jadi sama 'sakral'nya dengan seni khusus lainnya, monolog, tari kontemporer, drama. 
Karena saya memulai pembahasan dengan 'pertama', mestinya ada yang kedua, ketiga dan seterusnya. 

Kedua, seakan-akan ada harapan para pesulap untuk para tokohnya turun ke bawah, membantu mereka mengenal sulap, membantu mereka menyusun 'routine' yang benar, membantu mereka menemukan alasan mereka bertahan di dunia sulap, dan membagikan semua pengalaman yang telah didapatkan para tokoh.

Jadi, saat Master Deddy Corbuzier bilang bahwa tak ada harapan untuk sulap di Indonesia, para pesulap yang masih berjuang, berharap tokohnya membantu mereka meraih harapan itu lagi. Bahwa kenyataannya memang menyedihkan, itu urusan belakangan, yang penting sama-sama berjuang untuk meraih harapan itu lagi.

Ketiga, soal penampilan para pesulap di teater di poin pertama tadi, bulan lalu yang tampil adalah Koh Jiban---para pesulap manggilnya begitu. Saya ikut-ikutan ðŸ˜‚.

Koh Jiban itu yang dulu ikutan The Next Mentalist, salah satu acara pencarian pesulap yang dibuat oleh Master Deddy yang tayang di Trans 7 beberapa tahun yang lalu.

Dulu, Koh Jiban ikut TNM berdua sama temannya Koh Emon---nah yang ini ngasal, cuma karena yang satu Koh, biar gampang, satu lagi saya panggil Koh aja.

Mereka berdua bertahan cukup lama di kompetisi itu, juara tiga setahu saya.

Sudah lama tak medengar kabar keduanya, tiba-tiba saya dapat info bahwa Koh Jiban bakal buat konser di teater yang berlangsung bulan lalu. 

Saya juga dapat facebooknya Koh Jiban, saya lihat banyak ucapan selamat di sana, saya juga menemukan ada Kang Mo Sidik di kolom komentar salah satu status uncapan terimakasih Koh Jiban.

Saya pikir, Kang Mo Sodik kan komika, kenal dari mana sama Koh Jiban? Apa lagi, obrolan mereka di kolom komentar cukup akrab.

Setelah saya lihat-lihat timelinenya Kang Mo, saya sadar bahwa Kang Mo punya banyak teman sesama seniman. Seniman-seniman di Jakarta punya perjuangan yang sama dalam memperjuangkan seninya.

Saya kagum. Saya kagum pada seni dan orang-orang di dalamnya. Saya semakin mencintainya meski saya tak yakin saya sudah ada di dalamnya atau belum.

Sebenarnya, saya ingin mengakhiri dengan wajar status ini. Biasa saja. Tanpa mencoba menghadirkan kalimat-kalimat penuh makna. 

Rasanya kurang lengkap. Saya mesti menutup ini dengan kalimat-kalimat bermakna. 

Saya tadinya mau tulis quote nyeleneh soal seni yang banyak berseliweran.

"Earth without art, is only 'eh'."

Namun, saya pikir ulang, rasanya kurang mantap, karena kurang 'genuin' dari pemikiran saya. Ah, saya mesti mikir di siang yang mulai naik ini.

Itu dia! Saya menemukan ide! Saya tutup saja pakai ini,

"Sesungguhnya, segala sesuatu adalah seni. Seni dalam korupsi. Seni dalam dakwah. Seni dalam televisi. Seni dalam kemasan 'mainstream'. Seni dalam idealisme. Maka, kita semua sedang berkesenian, menciptakan mahakarya terbaik setiap waktu."

Ah, percuma! Kata-kata saya ngambang. Saya mesti belajar banyak dari penulis-penulis di daftar teman saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#ReviewUsil Sok Suci by Fisabilillah Production

Ani Mencarimu