Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Kamu Di'bully'? Yakin? Bukan Bercanda?

Baiklah, setelah beberapa hari tidak menulis panjang di facebook, akhirnya saya menulis lagi. Sebenarnya, saya sudah mau menulis soal ini sejak beberapa hari yang lalu ada kabar soal pem'bully'an di salah satu universitas di jakarta. Saya tahan. Besoknya, terjadi lagi pem'bully'an yang juga diunggah ke media sosial oleh para pelaku. Parahnya, yang melakukan anak SMP yang baru masuk sekolah. Saya tahan. Hari ini, ada yang mengejutkan dari Hitam Putih, yaitu Krisna! Seorang anak dari Cirebon yang bakatnya luar biasa. Dapat menirukan suara-suara. Bisa makhluk hidup, benda mati, sampai makhluk hidup yang sudah mati, tepatnya kuntilanak. Namun, masalahnya adalah anak ini tidak melanjutkan sekolah.  Bukan! Bukan karena orangtuanya tak mampu. Melainkan karena dia trauma. Pada apa? Pada orang-orang goblok yang mem'bully'ny ketika di sekolah, ketika dia diminta untuk menunjukkan bakatnya, padahal dia lelah dan malas, dia malah jadi sasaran empuk untuk ditimpuk.  Hei! Kri...

#ReviewUsil Sok Suci by Fisabilillah Production

Perkembangan film pendek di Indonesia cukup pesat. Banyak komunitas-komunitas film yang memproduksi film dengan serius. Pangsa pasarnya juga beragam. Ada yang bermain di platform online seperti Youtube.com atau Vidio.com. Ada juga komunitas-komunitas yang lebih fokus pada festival. Beberapa, bermain keduanya. Mereka tidak main-main, ini butuh keseriusan. Membuat film pendek tidak pernah semudah yang penonton bayangkan. Mengemas konflik padat dalam waktu singkat memerlukan kelihaian tim produksi, khususnya tim penulis skenario. Bukan cuma itu, mencari tema yang 'relate' pada jaman dan atau manusianya juga susah. Kali ini, mari membiarkan saya mengulas salah satu film pendek produksi Fisabilillah Production yang berjudul Sok Suci. Supaya damai, saya menulis #ReviewUsil ini sembari mendengarkan Banda Neira di telinga. Semoga memuaskan. Mari mulai! Fisabilillah Production atau biasa disebut FisProd adalah sebuah komunitas atau bahkan sebuah rumah produksi serius yang d...

Saya Tidak Merokok dan Saya Menghargai Mereka yang Merokok

Rokok. Isu yang kuat kita bahas semalam suntuk.  Saya tidak merokok, paling tidak sampai saya menulis ini. Lalu, pertanyaannya, kenapa saya tidak merokok? Karena saya suka makan permen? Korelasinya di mana? Saya tidak merokok karena merokok itu gak enak. Lah, dari mana saya bisa tahu? Kelihatannya begitu. Nikmatnya di mana? Isap, keluar asap, sampai habis begitu terus. Sekali lagi, kelihatannya begitu. Namun, buat apa saya jelaskan lebih panjang lagi kenapa saya tidak merokok, memangnya ada yang penasaran? Ada yang mau tahu betul? Mari kita bahas sesuatu yang lebih pantas untuk diperbincangkan . Kenapa saya menghargai mereka yang merokok?  Karena itu pilihan mereka. Selama itu tidak mengganggu, lanjutkan. Namun, yang menyedihkan adalah para perokok yang tidak menghargai keberadaan orang lain. Bukan cuma yang tidak merokok, yang perokok saja kalau lagi di angkot ada bapak-bapak yang merokok dan asapnya kemana-mana juga pasti merasa terganggu. Superman, juga kalau lagi di angko...

Sulap; Perjuangan Berkesenian

Gambar
Pagi ini, di beranda lewat status salah satu pesulap yang ada di daftar teman saya. Tak usah saya sebut. Biar seru. Saya memang punya beberapa teman pesulap profesional di daftar teman, yah meskipun saya gak pernah berani untuk sok akrab komentar di status mereka, paling tidak saya dapat kabar terbaru soal dunia persulapan dari pesulapnya langsung. Balik ke status yang lewat tadi pagi, saya iseng untuk membuka 'timeline' pesulap itu, melihat kabar terbaru, berita-berita sulap tanah air, dan hal-hal yang tidak saya dapatkan dari kawan-kawan penulis di daftar teman saya. Oh iya, meskipun mereka pesulap, tapi statusnya bagus-bagus loh. Ah, udah jago sulap, jago nulis, bentar lagi jadi ayam jago. . Di 'timeline' itu, saya mendapat beberapa hal.  Pertama, bahwa akhir-akhir ini, para pesulap sedang mencoba mengembalikan sulap pada jati dirinya. Yaitu, sulap satu jam, pakai 'opener', di gedung teater. Ini tentu semacam harapan baru mereka. Saya setuju. Ba...

Recehan, Menurut Siapa?

Sulit sekali mengartikan recehan. Setahu saya, selama ini recehan itu ada ukurannya, jelas. 100 rupiah, sampai 5.000 rupiah mungkin masih bisa dikatakan recehan. Terkadang, bahkan 5.000 rupiah bisa berarti 500.000 rupiah untuk saya dan keluarga-keluar ga lain di Indonesia. Lalu, sekarang saya dihadapkan pada recehan berpuluh atau bahkan beratus juta. Saya bingung. Kita mesti menilai recehan dari segi orang kaya atau dari segi mananya?  Bukankah ketika ada banyak maling di lingkungan kita, setiap hari terjadi lima sampai sepuluh kasus, kita harusnya menghargai setiap tangkapan hansip? Masak ya kita bisa marahin atau malah ngejelekin hansipnya karena cuma bisa nangkap yang maling ayam?  "Ah, hansipnya gak bagus nih. Tangkap kok yang maling ayam, yang maling mobil dong. Dasar, hansip pilih kasih!" Serius. Saya bingung.

Angkot; Pembelajaran Kehidupan

Gambar
Ada banyak alasan kenapa kita kemana-mana naik angkot. Pertama, karena emang maunya gitu. Kedua, karena kita mau nyalonin jadi caleg dan meraup suara dengan naik angkot kemana-mana. "Wah, si Pak Fulan itu, orang kaya, tapi semalam saya satu angkot sama si Bapak. Sederhana ya." "Goblok. Itu mobilnya mogok semalam." Sebenarnya, ini bukanlah pembukaan yang baik, tapi mau gimana lagi? Saya sanggupnya segitu. Saya mau cerita soal angkot, ada yang tau angkot? Atau ada yang gak tau? Angkot itu yang kalau jemuran udah kering diangkot.  "Angkat!" Maafkan keanehan lelucuan saya di atas. Jangan emosi. Masih puasa. Nanti kalau udah buka, baru boleh....  "Boleh marah?" Boleh makan minum, marahnya jangan juga. "Boleh itu yang kalau Paman datang dari desa bawa boleh-boleh, kan?" Itu oleh-oleh. Diam dulu, ini nanti yang baca muntah. "Batal dong?" Batal itu yang kalau kita melakukan kesalahan. Kesalahan Batal. "It...