Saya Tidak Merokok dan Saya Menghargai Mereka yang Merokok



Rokok. Isu yang kuat kita bahas semalam suntuk. 

Saya tidak merokok, paling tidak sampai saya menulis ini.
Lalu, pertanyaannya, kenapa saya tidak merokok? Karena saya suka makan permen? Korelasinya di mana?

Saya tidak merokok karena merokok itu gak enak. Lah, dari mana saya bisa tahu? Kelihatannya begitu. Nikmatnya di mana? Isap, keluar asap, sampai habis begitu terus. Sekali lagi, kelihatannya begitu.

Namun, buat apa saya jelaskan lebih panjang lagi kenapa saya tidak merokok, memangnya ada yang penasaran? Ada yang mau tahu betul? Mari kita bahas sesuatu yang lebih pantas untuk diperbincangkan.

Kenapa saya menghargai mereka yang merokok? 

Karena itu pilihan mereka. Selama itu tidak mengganggu, lanjutkan.

Namun, yang menyedihkan adalah para perokok yang tidak menghargai keberadaan orang lain. Bukan cuma yang tidak merokok, yang perokok saja kalau lagi di angkot ada bapak-bapak yang merokok dan asapnya kemana-mana juga pasti merasa terganggu. Superman, juga kalau lagi di angkot ada yang merokok pasti panas hatinya. 

Siapa pun yang sering merokok di tempat umum tanpa peduli keadaan sekitar dan keberadaan orang lain, mohon untuk dipikir lagi, itu sama buruknya ketika bulan puasa matahari lagi tinggi terus kita naik angkot bawa es jeruk di plastik bening yang ada tetes airnya, atau sama juga dengan memutar lagu Metal di tengah malam dengan volume pol. Gak salah sih, cuma ya kok rasanya kurang sopan ya. Gak dilarang, tapi 'mbok' ya mikir gitu. Gak ada di Undang-Undang memang, tapi kurang ajar aja gitu.

Saya nulis ini bukan karena saya baru pulang naik angkot terus mengalami ini. Toh, ini sudah terjadi setiap hari di masyarakat. Banyak. Biasa.

Saya nulis ini karena dua minggu yang lalu, dalam SUCI 7, Ridwan Remin yang perokok bahas rokok di dalam materi stand up-nya. Ada banyak orang yang mengomentari di sosial medianya sesaat setelah itu, banyak banget yang gak setuju dengan pendapatnya itu.

Di rumah, ada dua orang yang merokok. Saya santai kok. Kalau saya rasa asapnya 'ketebelan', ya saya menghindar keluar kamar misalnya.

Saya cuma mau bilang, sesuatu yang banyak dan sering di kita, seringkali menjadi wajar di kemudian hari. Biasa. Merokok di tempat umum tanpa peduli keadaan sekitar dan keberadaan orang lain, karena yang melakukan banyak dan sering terjadi, lama kelamaan jadi hal biasa. Padahal, kita semua tahu seharusnya gak seperti itu.

Pak, Bu, Om, Tante, Kak, Bang, Dik, untuk menjadi warga masyarakat yang baik itu mudah. Bukan dinilai dari berapa banyak kita menangkap pencopet. Sederhana sekali, mengikuti aturan, menimbang-nimbang nilai dan norma di masyarakat, tidak egois, sudah menjadikan kita warga negara yang baik. Apalagi kalau ditambah bayar pajak.


Catatan: Status ini tidak didukung oleh Kantor Pajak setempat.

Komentar

  1. Sy ngga bisa merasakan tulisannya kayak mana nih

    Jalan terus nulisnya walaupun cuma catatan pikiran tak jelas bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak kritiknya, Bang. Semoga bisa terus nge-blog dan memperbaiki tulisan.

      Hapus

Posting Komentar