Angkot; Pembelajaran Kehidupan

Ada banyak alasan kenapa kita kemana-mana naik angkot. Pertama, karena emang maunya gitu. Kedua, karena kita mau nyalonin jadi caleg dan meraup suara dengan naik angkot kemana-mana.

"Wah, si Pak Fulan itu, orang kaya, tapi semalam saya satu angkot sama si Bapak. Sederhana ya."

"Goblok. Itu mobilnya mogok semalam."

Sebenarnya, ini bukanlah pembukaan yang baik, tapi mau gimana lagi? Saya sanggupnya segitu.
Saya mau cerita soal angkot, ada yang tau angkot? Atau ada yang gak tau? Angkot itu yang kalau jemuran udah kering diangkot. 

"Angkat!"

Maafkan keanehan lelucuan saya di atas. Jangan emosi. Masih puasa. Nanti kalau udah buka, baru boleh.... 

"Boleh marah?"

Boleh makan minum, marahnya jangan juga.

"Boleh itu yang kalau Paman datang dari desa bawa boleh-boleh, kan?"

Itu oleh-oleh. Diam dulu, ini nanti yang baca muntah.

"Batal dong?"

Batal itu yang kalau kita melakukan kesalahan. Kesalahan Batal.

"Itu fatal!"

Oke, jangan hiraukan percakapan imajiner di atas. 

Balik ke angkot, saya memang kemana-mana itu naik angkot. Karena apa? Karena saya mau jadi caleg ðŸ˜‚. Bukanlah. Saya naik angkot karena memang gak bisa naik motor dan gak punya mobil. Tenang, saya gak minta kalian untuk buat donasi belikan saya mobil. 

Percaya atau enggak, naik angkot itu ada seninya. Misal, kalau mau tidur di angkot itu ada seninya tersendiri, kalau mau nguping pembicaraan orang lain---jangan dicontoh---itu ada seninya, milih tempat duduk yang nyaman juga ada seninya.

Satu hal yang saya paling suka dari naik angkot adalah mempelajari bermacam-macam jenis orang. 
Ada anak-anak, anak alay, anak caleg yang lagi nyari simpati, anak kodok, anak ayam turun seribu, mati satu tinggal banyak.

Ada anak SMA yang kadang kekanakan, kadang juga dewasa parah, Ada ibu-ibu yang baru pulang atau mau pergi ke pasar, ada bapak-bapak yang sesuka hati merokok di dalam angkot, ada kakak-kakak yang sibuk main handphone, ada abang-abang yang tidur di pojokan, ada orang yang memutuskan untuk duduk di depan dan ngobrol sok akrab sama sopir, ada pasangan muda suami-istri yang mukanya kelihatan gak bahagia, ada kakak-kakak sama temannya yang ngobrol dengan suara pol, gak peduli sama lelahnya oranglain di angkot yang sama, dan ada banyak lagi jenis-jenis orang yang bisa kita temui di angkot.

Dengan menghadapi itu semua, kita belajar menerima orang lain, bahkan sesekali mencoba belajar menganalisa karakter seseorang, kita juga belajar sabar, kita juga kadang-kadang bisa ketawa pol di saat-saat tertentu 

"Naik angkot itu menyehatkan! Ayo naik angkot!"

Ah, kurang asik ya, kaya iklan layanan masyarakat bersepeda.

Saya butuh penutup yang baik untuk menutupi keburukan pembukanya tadi. Apa kata-kata yang bagus soal angkot?

"Angkot! Pelajaran Kehidupan."

Nah, itu dia. Meskipun gak ngangkat amat, tapi lumayanlah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#ReviewUsil Sok Suci by Fisabilillah Production

Ani Mencarimu

Sulap; Perjuangan Berkesenian