Kamu Di'bully'? Yakin? Bukan Bercanda?
Baiklah, setelah beberapa hari tidak menulis panjang di facebook, akhirnya saya menulis lagi.
Sebenarnya, saya sudah mau menulis soal ini sejak beberapa hari yang lalu ada kabar soal pem'bully'an di salah satu universitas di jakarta.
Saya tahan.
Besoknya, terjadi lagi pem'bully'an yang juga diunggah ke media sosial oleh para pelaku. Parahnya, yang melakukan anak SMP yang baru masuk sekolah.
Saya tahan.
Hari ini, ada yang mengejutkan dari Hitam Putih, yaitu Krisna! Seorang anak dari Cirebon yang bakatnya luar biasa. Dapat menirukan suara-suara. Bisa makhluk hidup, benda mati, sampai makhluk hidup yang sudah mati, tepatnya kuntilanak.
Namun, masalahnya adalah anak ini tidak melanjutkan sekolah.
Bukan! Bukan karena orangtuanya tak mampu. Melainkan karena dia trauma. Pada apa? Pada orang-orang goblok yang mem'bully'ny ketika di sekolah, ketika dia diminta untuk menunjukkan bakatnya, padahal dia lelah dan malas, dia malah jadi sasaran empuk untuk ditimpuk.
Hei! Krisna itu keren! Keren karena punya bakat hebat, tapi tak mau pamer berlebih!
Akhirnya, di sinilah saya. Dalam bentuk kata, mencoba mengupas sesuatu di malam yang sumuk.
Mari kita membahas ini perlahan-lahan.
Apakah saya pernah di'bully'?
Pasti. Cukup sering malah. Apalagi, sebelum mereka tahu saya ini hebat. Kelihatan sombong memang, tapi begitulah kenyataannya.
Saya punya bentuk tangan yang aneh. Mari sepakati kata itu. Saya tak mau menyebut ini unik. Tangan kiri saya sempurna keadaannya. Ada lima jari lengkap dengan kuku, dan bentuk yang tepat. Namun, tangan kanan saya itu berbeda. Aneh. Ibu jari dan kelingking dalam keadaan baik, tapi telunjuk, jari tengah dan jari manis saya aneh. Telunjuk saya kecil, jari tengah saya besar, jari manis saya tak sempurna.
Sejujurnya, kalau tidak perlu diingat, saya kadang sudah lupa bahwa saya ini beda.
Dulu, kalau ada tetangga atau orang di angkot yang tanya tangan saya kenapa, mama selalu bilang tangan saya bawaan lahir. Saya sih santai, lah saya bisa apa? Ngerti juga belum.
Saya gak mengerti siapa yang mengajari saya untuk melakukan segala sesuatu menggunakan tangan kiri. Tiba-tiba, meski terdengar aneh, saya lancar saja begitu pakai tangan kiri.
'Bully', muncul ketika saya mulai remaja. Nanti, saya janji akan menulis itu semua. Tidak sekarang, karena saat menulis ini baterai saya tinggal 7%.
Saat kasus 'bully' viral, banyak sekali para artis yang ditanyai apa mereka pernah di'bully'. Yang menarik, kebanyakan menjawab mungkin pernah, tidak tahu pasti itu bully atau tidak, dan jawaban-jawaban lain yang agak ragu.
Menurut saya, ini masalah. 'Bully' atau tidak, penentuannya bukan pada kepolisian, orangtua, psikolog, psikiater, atau siapapun yang belajar banyak soal ilmu sosial.
Lalu, siapa yang pantas?
Satu-satunya yang bisa menilai itu 'bully' atau bukan adalah kita sebagai korban.
Kalau kamu pikir ini menyakiti dirimu, membuat trauma dan takut, maka kamu berhak untuk bilang kamu di'bully'. Kalau kamu merasa ini wajar dan tidak lebih dari sekadar bercanda, maka tak peduli seluruh pakar bilang itu pem'bully'an, kamu berhak bilang itu hanya bercanda.
Masalahnya, kadang kita sulit untuk bicara. Kita pikir, ah ini hal biasa. Bahkan, tak jarang kita takut untuk melapor.
Jadi, seluruh makhluk di bumi berhak memberikan pendapat terhadap sebuah kasus 'bully', tapi satu-satunya yang mesti kita percayai adalah korban.
Kalau korban sampai menangis, namun kepala sekolah bilang mereka bercanda, maka damprat kepala sekolahnya. Ini juga berlaku untuk menteri pendidikan yang bilang media jangan membesarkan masalah 'bully' karena pelaku dan korban adalah teman. Damprat!
'Bully' itu lucu. Kadang, kau bisa trauma cuma karena gurumu bilang kau lemas sekali, kau tak sarapan ya? Orangtuamu mana?
'Bully' dalam bentuk apapun mengerikan. Semoga kita dan keluarga terhindar dari hal ini.
Mengajarkan anak menerima keberadaan orang lain, mungkin salah satu cara memutus rantai 'bully' di sekolah.
Terimakasih sudah mau baca tulisan panjang ini. Ingat loh, kalau mau copas pakai sumber. Menulis itu tidak segampang memaki-maki novel yang kau baca.
Sebenarnya, saya sudah mau menulis soal ini sejak beberapa hari yang lalu ada kabar soal pem'bully'an di salah satu universitas di jakarta.
Saya tahan.
Besoknya, terjadi lagi pem'bully'an yang juga diunggah ke media sosial oleh para pelaku. Parahnya, yang melakukan anak SMP yang baru masuk sekolah.
Saya tahan.
Hari ini, ada yang mengejutkan dari Hitam Putih, yaitu Krisna! Seorang anak dari Cirebon yang bakatnya luar biasa. Dapat menirukan suara-suara. Bisa makhluk hidup, benda mati, sampai makhluk hidup yang sudah mati, tepatnya kuntilanak.
Namun, masalahnya adalah anak ini tidak melanjutkan sekolah.
Bukan! Bukan karena orangtuanya tak mampu. Melainkan karena dia trauma. Pada apa? Pada orang-orang goblok yang mem'bully'ny ketika di sekolah, ketika dia diminta untuk menunjukkan bakatnya, padahal dia lelah dan malas, dia malah jadi sasaran empuk untuk ditimpuk.
Hei! Krisna itu keren! Keren karena punya bakat hebat, tapi tak mau pamer berlebih!
Akhirnya, di sinilah saya. Dalam bentuk kata, mencoba mengupas sesuatu di malam yang sumuk.
Mari kita membahas ini perlahan-lahan.
Apakah saya pernah di'bully'?
Pasti. Cukup sering malah. Apalagi, sebelum mereka tahu saya ini hebat. Kelihatan sombong memang, tapi begitulah kenyataannya.
Saya punya bentuk tangan yang aneh. Mari sepakati kata itu. Saya tak mau menyebut ini unik. Tangan kiri saya sempurna keadaannya. Ada lima jari lengkap dengan kuku, dan bentuk yang tepat. Namun, tangan kanan saya itu berbeda. Aneh. Ibu jari dan kelingking dalam keadaan baik, tapi telunjuk, jari tengah dan jari manis saya aneh. Telunjuk saya kecil, jari tengah saya besar, jari manis saya tak sempurna.
Sejujurnya, kalau tidak perlu diingat, saya kadang sudah lupa bahwa saya ini beda.
Dulu, kalau ada tetangga atau orang di angkot yang tanya tangan saya kenapa, mama selalu bilang tangan saya bawaan lahir. Saya sih santai, lah saya bisa apa? Ngerti juga belum.
Saya gak mengerti siapa yang mengajari saya untuk melakukan segala sesuatu menggunakan tangan kiri. Tiba-tiba, meski terdengar aneh, saya lancar saja begitu pakai tangan kiri.
'Bully', muncul ketika saya mulai remaja. Nanti, saya janji akan menulis itu semua. Tidak sekarang, karena saat menulis ini baterai saya tinggal 7%.
Saat kasus 'bully' viral, banyak sekali para artis yang ditanyai apa mereka pernah di'bully'. Yang menarik, kebanyakan menjawab mungkin pernah, tidak tahu pasti itu bully atau tidak, dan jawaban-jawaban
Menurut saya, ini masalah. 'Bully' atau tidak, penentuannya bukan pada kepolisian, orangtua, psikolog, psikiater, atau siapapun yang belajar banyak soal ilmu sosial.
Lalu, siapa yang pantas?
Satu-satunya yang bisa menilai itu 'bully' atau bukan adalah kita sebagai korban.
Kalau kamu pikir ini menyakiti dirimu, membuat trauma dan takut, maka kamu berhak untuk bilang kamu di'bully'. Kalau kamu merasa ini wajar dan tidak lebih dari sekadar bercanda, maka tak peduli seluruh pakar bilang itu pem'bully'an, kamu berhak bilang itu hanya bercanda.
Masalahnya, kadang kita sulit untuk bicara. Kita pikir, ah ini hal biasa. Bahkan, tak jarang kita takut untuk melapor.
Jadi, seluruh makhluk di bumi berhak memberikan pendapat terhadap sebuah kasus 'bully', tapi satu-satunya yang mesti kita percayai adalah korban.
Kalau korban sampai menangis, namun kepala sekolah bilang mereka bercanda, maka damprat kepala sekolahnya. Ini juga berlaku untuk menteri pendidikan yang bilang media jangan membesarkan masalah 'bully' karena pelaku dan korban adalah teman. Damprat!
'Bully' itu lucu. Kadang, kau bisa trauma cuma karena gurumu bilang kau lemas sekali, kau tak sarapan ya? Orangtuamu mana?
'Bully' dalam bentuk apapun mengerikan. Semoga kita dan keluarga terhindar dari hal ini.
Mengajarkan anak menerima keberadaan orang lain, mungkin salah satu cara memutus rantai 'bully' di sekolah.
Terimakasih sudah mau baca tulisan panjang ini. Ingat loh, kalau mau copas pakai sumber. Menulis itu tidak segampang memaki-maki novel yang kau baca.
Komentar
Posting Komentar