Namaku Nandar

Namaku Nandar. Aku salah satu pengibar bendera di SMA tempat aku belajar. Bukan. Bukan paskibra. Di sekolah kecil di sudut kampung, tidak ada paskibra. Baju kami ya biasa saja, pakai putih abu-abu, topi lusuh yang ada lambang tut wuri handayaninya, sepatu hitam kumal yang sedikit terkikis sol sepatunya, dan bendera yang tak secerah dulu. Kemarin, sesudah upacara, aku mendengar kepala sekolah kami yang sering datang terlambat memarahi beberapa orang yang mengurus sekolah, "Kenapa bendera kita lusuh sekali! Tidak ada kalian yang peduli pada bendera itu? Cepat urus bendera itu. Saya mau itu bersih di upacara minggu depan. Dengar kalian?"

Aku mendengar itu sehabis keluar dari kamar mandi, aku lewat di depan kantor kepala sekolah saat akan kembali ke kelas.

Nandar. Bukan nama yang istimewa, bukan? Waktu aku tanya apa artinya Nandar pada ibu, ibu tak tahu, kata ibu Nandar adalah nama yang kakek berikan.

Kakek sudah meninggal, sampai mati, aku tidak akan menemukan alasan mengapa namaku Nandar. Biarlah saja begitu, jadi misteri terindah dalam hidupku.
***
Namaku Nandar, hari ini hari pertama aku bekerja menjadi guru sekolah negeri, aku guru honorer, gajiku biasa saja, kecil, kalah dibanding anggota DPR yang kerjanya rapat sambil tidur, maksudku, tidur sambil rapat.

Namun, biarlah begitu, biarlah gajiku kecil, biarlah anggota DPR tidur, biarlah semuanya mengalir seperti semestinya.

Aku mengajar Pendidikan Kewarganegaraan. Tentu! Aku nasionalis, pancasilais, patriotis. Hobiku semasa remaja saja mengibarkan bendera, bagaimana bisa aku tidak nasionalis, pancasilais, dan patriotis?

Dalam mengajar, nantinya aku mengedepankan hafalan. Kalau tidak hafal, bagaimana bisa diamalkan?
***
Namaku Nandar, hari ini hari pertama aku menjadi kepala sekolah di sekolah tempat aku mengajar. Aku sudah tidak lagi jadi guru honorer, tentunya sesudah suap sana-sini pada para kerabat dan rekan di dinas pendidikan. Lumayan juga, dompetku terperas habis. Namun, tenang saja, kata teman tempat aku kuliah, sesudah dia menjadi kepala sekolah, banyak uang masuk ke dompetnya, orang tua murid yang memaksa anaknya sekolah di sekolah negeri, dan segala macam tetek bengek yang bisa diuangkan.

Aku sih pasrah saja, bila nanti ada uang masuk ke dompetku, tak mungkin aku tolak, harga listrik di negeri ini mahal, air juga bayar, untuk makan sehari-hari apalagi, hidup butuh banyak uang, bukan? Mana bisa aku menolak.
***
Namaku Nandar, baru saja aku melewati upacara pertama sebagai kepala sekolah, tadi aku lihat, benderanya bersih, ini kan dikota, pantas saja benderanya bersih, tidak mungkin sekumuh bendera di sekolahku dulu. Di sini, benderanya bersih, merahnya terang, putihnya bersih.

Ah, indah sekali! Halaman asri, uang masuk ke dompet setiap hari, guru-guru taat aturan, siswa-siswi kaya, sempurna!
***
"Siapa namanya, Yah? Aku dan Lastri tak punya ide sekarang ini. Kalau ayah punya, kira-kira siapa?"

"Panggil saja Nandar."

"Nandar? Panjangnya?"

"Tidak, cukup Nandar."
***
Namaku Nandar, aku ini pejuang, veteran kata anak jaman sekarang. Aku dulu berperang melawan penjajah, banyak temanku yang mati, salah satunya aku. Kami tidak benar-benar pakai bambu runcing, kami pakai apa yang ada, batu-batu dan semua yang terkena badan menyakitkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#ReviewUsil Sok Suci by Fisabilillah Production

Ani Mencarimu

Sulap; Perjuangan Berkesenian