Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Bagaimana Bila Upin Ipin Adalah Kartun Animasi Buatan Indonesia? .

Gambar
Siapa yang tidak tahu Upin Ipin? Nenek-nenek yang lagi minum teh di beranda rumahnya di Belgia aja tahu. Apalagi sekadar alien dari Mars, pasti tahu. Pembuka macam apa itu? Sampah! Malam ini, berbekal baterai handphone 19%, nyamuk-nyamuk yang menggorogoti, dan daya khayal tinggi, saya memutuskan untuk berandai-andai Upin Ipin itu buatan Indonesia, bagaimana jadinya? Ingat! Saya tidak mencoba menjelek-jelekkan saya sendiri. Namun, memang beginilah adanya, menurut imajinasi dan keusilan saya. Mari mulai! Upin Ipin pasti akan jadi animasi dengan 'rating' R&BO. Mengapa? Karena konflik-konfliknya pasti akan beda. Upin Upin yang kedua orangtuanya meninggal dan hidup bersama Opa dan Kak Ros, bila di kita akan ada tambahan peran suami dari Opa. Anggap saja Tuk Fulan. Tetangga mereka, Tuk Dalang, yang merupakan teman masa kecil Opa, pasti tidak akan dekat hubungannya dengan keluarga Upin Ipin. Karena apa? Karena Tuk Fulan, Opa, dan Tuk Dalang punya sejarah cinta pada masa remaja. ...

Lebaran dan Putri Salju. .

Tentu saja, ini bukan kisah dongeng Putri Salju yang makan nastar di hari lebaran. Jadi aneh kalau Putri Saljunya pakai kopyah, sarung cap kangguru sikap lilin. Saya mau cerita soal kue lebaran. Kue lebaran sekarang ada ekstraknya. Kabar bahagia, bukan? Kue lebaran kesukaan saya itu ya kue putri salju. Kalau saya sih dari dulu bilangnya kue salju. Salju. Bukan singkatang Salak Jumbo. Oh iya, sebelum saya lanjut cerita tak penting ini, saya sebaiknya menyapa semuanya dulu. Selamat pagi! Selamat lebaran! Selamat makan nastar, ketupat, dan teman-teman! Oke, mari kita lanjut cerita yang tak penting tadi. Kenapa saya suka kue putrinya salju, eh, saljunya putri, eh, salju putrinya, ahhh... putri salju? Coba jawab! "Karena waktu dimakan kuenya gak ngelawan?" Ya memang, kalau ngelawan itu petarung UFC. Yang lain? "Karena kulit manggis ada ekstraknya." Next! "Karena aku sayang kamu dan nastarmu" . Next! "Karena kuah lontong yang menggoda iman?" Lanjut. Ud...

Sulap; Perjuangan Berkesenian

Gambar
Pagi ini, di beranda lewat status salah satu pesulap yang ada di daftar teman saya. Tak usah saya sebut. Biar seru. Saya memang punya beberapa teman pesulap profesional di daftar teman, yah meskipun saya gak pernah berani untuk sok akrab komentar di status mereka, paling tidak saya dapat kabar terbaru soal dunia persulapan dari pesulapnya langsung. Balik ke status yang lewat tadi pagi, saya iseng untuk membuka 'timeline' pesulap itu, melihat kabar terbaru, berita-berita sulap tanah air, dan hal-hal yang tidak saya dapatkan dari kawan-kawan penulis di daftar teman saya. Oh iya, meskipun mereka pesulap, tapi statusnya bagus-bagus loh. Ah, udah jago sulap, jago nulis, bentar lagi jadi ayam jago. . Di 'timeline' itu, saya mendapat beberapa hal.  Pertama, bahwa akhir-akhir ini, para pesulap sedang mencoba mengembalikan sulap pada jati dirinya. Yaitu, sulap satu jam, pakai 'opener', di gedung teater. Ini tentu semacam harapan baru mereka. Saya setuju. Ba...

Recehan, Menurut Siapa?

Sulit sekali mengartikan recehan. Setahu saya, selama ini recehan itu ada ukurannya, jelas. 100 rupiah, sampai 5.000 rupiah mungkin masih bisa dikatakan recehan. Terkadang, bahkan 5.000 rupiah bisa berarti 500.000 rupiah untuk saya dan keluarga-keluar ga lain di Indonesia. Lalu, sekarang saya dihadapkan pada recehan berpuluh atau bahkan beratus juta. Saya bingung. Kita mesti menilai recehan dari segi orang kaya atau dari segi mananya?  Bukankah ketika ada banyak maling di lingkungan kita, setiap hari terjadi lima sampai sepuluh kasus, kita harusnya menghargai setiap tangkapan hansip? Masak ya kita bisa marahin atau malah ngejelekin hansipnya karena cuma bisa nangkap yang maling ayam?  "Ah, hansipnya gak bagus nih. Tangkap kok yang maling ayam, yang maling mobil dong. Dasar, hansip pilih kasih!" Serius. Saya bingung.

Angkot; Pembelajaran Kehidupan

Gambar
Ada banyak alasan kenapa kita kemana-mana naik angkot. Pertama, karena emang maunya gitu. Kedua, karena kita mau nyalonin jadi caleg dan meraup suara dengan naik angkot kemana-mana. "Wah, si Pak Fulan itu, orang kaya, tapi semalam saya satu angkot sama si Bapak. Sederhana ya." "Goblok. Itu mobilnya mogok semalam." Sebenarnya, ini bukanlah pembukaan yang baik, tapi mau gimana lagi? Saya sanggupnya segitu. Saya mau cerita soal angkot, ada yang tau angkot? Atau ada yang gak tau? Angkot itu yang kalau jemuran udah kering diangkot.  "Angkat!" Maafkan keanehan lelucuan saya di atas. Jangan emosi. Masih puasa. Nanti kalau udah buka, baru boleh....  "Boleh marah?" Boleh makan minum, marahnya jangan juga. "Boleh itu yang kalau Paman datang dari desa bawa boleh-boleh, kan?" Itu oleh-oleh. Diam dulu, ini nanti yang baca muntah. "Batal dong?" Batal itu yang kalau kita melakukan kesalahan. Kesalahan Batal. "It...